KONAS PERKENI X 2015

Pemberitahuan Pertama KONAS PERKENI X 2015 (more…)

KONAS PETRI 2015

Pemberitahuan Pertama KONAS PETRI XXI 2015

Leaflet Konas PETRI 2015 1. depan

Leaflet Konas PETRI 2015 3. Dalam

Leaflet Konas PETRI 2015 4. Dalam

Leaflet Konas PETRI 2015 2. Pendaftaran

KONKER PAPDI 2014

Leaflet Konker PAPDI depan Sampul
Leaflet Konker PAPDI Tengah
Leaflet Konker PAPDI Belakang

UGM Gagas Sekolah Tani

UGM Gagas Sekolah Tani

Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) Universitas Gadjah Mada, Dr. Revrisond Baswir

YOGYAKARTA – Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Jenderal Sudirman Center menggagas berdirinya Sekolah Tani. Program ini diharapkan menjadi model alternatif dalam pemberdayaan petani di Indonesia. Materi program yang diberikan pada kader-kader petani dan kelompok tani diarahkan pada aspek pengetahuan tentang politik ekonomi pertanian yang lebih luas.

“Lewat Sekolah Tani, kita mencoba memperbaiki nasib petani dengan cara mereka dicerdaskan dan diorganisasikan,” kata Kepala Pustek UGM, Dr. Revrisond Baswir ditemui disela-sela saat peluncuran program Sekolah Tani di kantor Pustek, Bulaksumur, Kamis (2/5).

Sony, demikian ia akrab disapa, menambahkan sasaran peserta awal sebanyak 25-30 orang per angkatan yang merupakan kader muda tani, meliputi kelompok tani di DIY dan Jawa Tengah dengan memperhatikan komposisi jender dan usia. Materi kurikulum mencakup wawasan pembangunan pertanian, potret kemiskinan, sejarah kebijakan dan pergerakan petani, problematika kebijakan dan tata niaga pertanian, strategi penguatan kelembagaan dan jejaring petani. “Kita harapkan setelah lulus mereka mengetahui bagaimana tata niaga di sektor pertanian dan petani juga mampu mengatur jual beli dan tidak lagi diatur oleh tengkulak dan rentenir,” katanya.

Program sekolah tani ini menurut Sony juga didukung oleh pimpinan universitas dengan disinergikan sekolah tani lewat program KKN PPM sehingga bisa dilaksanakan banyak daerah di Indonesia. “Harapan kita program ini bisa berkelanjutan,” katanya.

Sony menampik jika program ini dibentuk untuk kepentingan pemilu 2014. Menurutnya, gagasan pembentukan sekolah tani ini murni untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang selama ini masih dalam kondisi memprihatinkan. “Kita ingin bekerja sungguh-sungguh mengamalkan Pancasila dan Konstitusi. Dalam jangka panjang, petani dan buruh bisa bergandengan mengamalkan pancasila dan pasal 33 UUD, bukan sekedar macan kertas,” ungkapnya.

Senada, ketua Jenderal Sudirman Center, Bugiakso, menuturkan pendirian sekolah tani dilatarbelakangi atas keprihatinan menurunnya tingkat kesejahteraan petani dalam satu dekade terakhir. Bahkan dari tahun ke tahun produksi pertanian kian merosot sebaliknya kran produk impor pertanian makin dibuka lebar. “Ada yang salah dalam kebijakan pertanian untuk ketahanan pangan nasional,” imbuhnya.

Wakil Ketua Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM UGM, Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D., mengatakan program sekolah tani diharapkan mampu memberdayakan petani yang kini tengah menghadapi ketergantungan makin banyaknya produk impor pertanian seperti daging, bawang, dan gandum. “Petani butuh pendidikan komperehensif agar mereka mampu membangun sikap kritis dari kebijakan struktural yang berpengaruh pada kesejahteraan petani,” pungkasny. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Asrama UGM Gelar Residence Fair 2013

Asrama UGM Gelar Residence Fair 2013 YOGYAKARTA – Asrama UGM yang pada saat ini dikenal dengan nama Universitas Gadjah Mada Residence, melaksanakan kegiatan tahunan berupa “UGM Residence Fair 2013” yang pada tahun ini akan mengambil tema “Peran Asrama Dalam Membentuk Mahasiswa yang Memiliki Karakter Pemimpin Masa Depan”. Berbagai kegiatan dilaksanakan civitas akademika UGM Residence, alumni asrama UGM dan masyarakat umum mulai dari pertandingan olahraga, bazaar, sarasehan hingga family gathering.

Ketua panitia, Priatmo Nur Subagyo, mengatakan pelaksanaan kegiatan UGM Residence Fair 2013 merupakan agenda kegitan rutin tahunan untuk mengapresiasi kebutuhan berkreasi mahasiswa yang tinggal di Asrama. Disamping mengaktualisasi peran serta asrama dalam membentuk karakter individu berjiwa kebangsaan dan berbudaya.

Namun yang tidak kalah penting, imbuhnya, asrama juga diarahkan untuk membangun kerja sama dan kontribusi positif bagi peningkatan kapasitas mahasiswa yang tinggal di Asrama UGM. “Sehingga mampu mempererat rasa kebersamaan keluarga besar UGM Residence,” kata Priatmo dalam rilis yang dikirim Kamis (2/5).

General Manager Boyke R. Purnomo, SE., MM mengatakan UGM Residence sebagai unit kerja UGM yang bergerak dalam bidang akomodasi asrama mahasiswa untuk mengemban tugas memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter individu yang tidak hanya memiliki kemampuan secara keilmuan tetapi juga mahasiswa yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik. “Salah satunya dengan diadakannya kegiatan Life Skill yang dirancang sesuai dengan cita-cita UGM,” ujarnya.

Boyke menambahkan acara puncak dari kegiatan UGM Residence Fair adalah sarasehan yang dilaksanakan pada 12 Mei di Asrama Darmaputera. Sarasehan ini menurutnya sebagai ajang diskusi dan merumuskan format kegiatan ideal yang dapat menunjang pembentukan karakter mahasiswa. “Kita turut mengundang Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. Drs. Senawi, M.P., untuk memberikan sumbang saran demi tercapainya mahasiswa yang memiliki karakter pemimpin,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Wamenkumham Dorong Keterlibatan Psikolog di Lapas

Denny-Web-300x225

Wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D.


Wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D. mendorong keterlibatan psikolog pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia. Hal ini setidaknya berdasarkan pengalaman yang terjadi pasca kasus penyerangan yang terjadi di Lapas Kelas ll Sleman beberapa waktu lalu. Kemenkumham, kata Denny, selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi dan psikolog yang akan membantu memberikan konseling di Lapas tersebut.

“Baik petugas maupun warga binaan Lapas butuh psikolog dalam banyak kasus,”tegas Denny pada Workshop Membangun Sistem Layanan Kesehatan Mental di Lembaga Pemasyarakatan Indonesia di Fakultas Psikologi UGM, Rabu (1/5).

Selain psikolog, Denny mengakui masih banyak persoalan yang terjadi pada Lapas di Indonesia.

Persoalan itu antara lain over kapasitas penghuni Lapas. Ia memberikan data penghuni Lapas di Indonesia per 30 April 2013 sebanyak 157.684 orang. Dari jumlah tersebut 50.751 orang merupakan tahanan dan 106.933 merupakan narapidana. Sementara kapasitas hunian Lapas hanya mencapai 104.684 orang dengan 30.181 petugas Lapas. “Jadi secara nasional kita itu masih ada over kapasitas sekitar 150,37%,”imbuh Denny.

Menurut Denny selain keterlibatan psikolog dari perguruan tinggi, terbuka pula peluang keterlibatan mahasiswa Fakultas Psikologi pada saat KKN. Selama ini selain dari Fakultas Psikologi telah ada pula kerjasama lain yang dijalin seperti dari Kementerian Tenaga Kerja serta Kementerian Agama dengan Lapas.

Senada dengan itu Direktur Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, S.U sepakat adanya tenaga psikolog pada Lapas di Indonesia. Hal ini juga telah diterapkan pada puskesmas di Sleman maupun Kota Yogyakarta yang telah menyediakan layanan psikolog.

“Nanti kita mulai dari Lapas Kelas ll Sleman (Cebongan) seperti dengan adanya pojok konseling. Sebelumnya khan kita juga sudah lakukan konseling khususnya pasca kasus penyerangan beberapa waktu lalu,”tutur Noor Rochman.

Keberadaan psikolog menurut Noor Rochman diperlukan pada saat sebelum, selama dan sesudah warga binaan berada di Lapas.

Di sisi lain berdasarkan rapid assessment dan pendampingan psikologis yang dilakukan tim CPMH Fakultas Psikologi UGM terhadap 31 orang tahanan di Lapas Kelas ll Sleman diketahui bahwa pasca penyerangan tersebut, sebagian besar tahanan mengalami trauma. Upaya membangun mental yang sehat di lingkungan Lapas merupakan prioritas mengingat sampai saat ini belum terbangun sistem layanan kesehatan mental yang terintegrasi dengan Lapas (Humas UGM/Satria AN)

Puritanisme Masih Berkembang di Amerika

promosi Gideon Maru

Gideon mempertahankan disertasi berjudul “ Puritanisme In Amerika Presidents’ Mark Of Power: A Study On The Inagural Addresses From Reagan To Obama

Gagasan kaum Puritan masih tertanam kuat di Amerika Serikat. Bahkan menjadi modal budaya bagi pembangunan bangsa dan modal komunikasi bagi pemimpin di Amerika.

“Puritanisme sudah menjadi bagian dari Sejarah Amerika dan membentuk perilaku dasar masyarakatnya. Meskipun pandangan kaum Puritan mengalami pasang surut, namun gagasan-gagasan mereka selalu muncul dalam pidato-pidato pelantikan presdien dari masa Ronald Reagan sampai Barrack Obama,” ungkap Mister Gideon Maru, M.Hum., saat ujian terbuka Program Doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Rabu (1/5). Dalam kesempatan itu, Gideon mempertahankan disertasi berjudul “ Puritanism In Amerika Presidents’ Mark Of Power: A Study On The Inagural Addresses From Reagan To Obama”.

Gideon mengatakan dalam pidato pelantikan presiden mulai Reagan ke Obama memasukan adopsi gagasan-gagasan kaum Puritan awal yang terefleksi keadaanya dalam istilah-istilah yang masih dipakai dan bermakna kuat dalam upaya presiden membingkai situasi publik. Seperti penggunaan istilah perjalanan, panggilan, misi, terpilih, kewajiban, tanah baru, dunia baru, dan gagasan tentang kota di atas bukit serta keinginan menjadi teladan bagi semua bangsa dan introspeksi yang tiada henti. Selain dipakai untuk membingkai situasi publik, gagasan puritan juga digunakan untuk mengarahkan perilaku masyarakat dalam menghadapi situasi bangsa dan menarik dukungan bagi pemerintahan baru dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bangsa yang lebih baik.

“Jika presiden merupakan corong dan representasi masyarakat, maka ucapan seorang presiden dalam pidato resminya di depan mayarakat bisa dipandang sebagai gambaran nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakatnya,” ucap staf pengajar Universitas Negeri Manado ini.

Dalam naskah pidato pelantikan presiden Amerika ditemukan adanya penggunaan bingkai retoris dari tradisi jeremiad kaum Puritan yaitu adanya unsur ratapan apa yang terjadi saat ini, evokasi masa lalu sebagai motivasi dan solusi masa kini, dan desakan untuk perubahan ke depan yang lebih baik. Hanya saja dalam pidato pelantikan presiden mengalami pergeseran struktur pada penentuan penyebab krisis yang diratapi yaitu kaum Puritan menyalahkan masyarakat sebagai penyebab krisis, sedangkan para presiden cenderung menyalahkan pemerintahan sebelumnya sebagai penyebab krisis.

“Demikian halnya pada penggunaan aspek ratapan yang juga mengalami pergeseran dimana presiden yang melanjutkan periode pemerintahanya untu masa yang kedu kalinya atau sebagai presiden sebelumnya menjadi wakil presiden cenderung mengabaikan aspek ini dalam struktu pidato pelantikan mereka,” jelas Gideon.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan berbagai istilah Puritanisme dalam pidato pelantikan presiden dikaitkan dengan konteksm asyarakat mengarah pada bingkai sosio-kultural, politik dan ekonomi. Dari aspek sisio-kultural, istilah-istilah konseptual Puritanisme memberi bingkai keyakinan Amerika baik pada nilai kebebasan maupun semangat eksepsionalisme dan keyakinan semangat introspeksi Amerika baik bersifat individual maupun komunal. Sementara secara politis, Puritanisme membingkai semnagat misionaris bangsa Amerika terkait dengan misi untuk kepentingan nasional dan internasional. Disamping itu dalam ranah politik Puritanisme menjelaskan bingkai latar belakang partai para presiden berupa keterkaitan sejarah para presiden dari partai Republik dan keterkaitan pada kebaruan para presiden dari partai Demokrat. Sementara dari sisi ekonomi, interpretasi istilah Puritanisme menjelaskan dua bingkai yakni gambaran krisis ekonomi dan gambaran harapan pada perbaikan ekonomi bangsa Amerika.

“Adanya penggunaan berbagai istilah yang berbeda pada konteks yang berbeda dapat dilihat sebagai kekuatan dan dinamika Puritanisme dalam menghadapi situasi bangsa. Dalam konteks ini, Puritanisme telah menjadi modal bersama untuk menanggulangi berbagai situasi bangsa dan memenuhi harapan masyarakat Amerika,” jelasnya. (Humas UGM/Ika)

MAPAGAMA Ikuti Ekspedisi Arung Jeram Internasional di Nepal

Ekpedisi Mapagama Ke Nepal

Mereka adalah Fadil Ramadhan (FIB), Zul Fahmi M.(FISIPOL), Wahyudin (Fakultas Peternakan), Yudha Wahyu (FISIPOL), Aryati Larasati (Fakultas Kehutanan), Mul Hendra (Alumni FIB) sebagai kayakers.

Tim Mahasiswa Pencinta Alam Gadjah Mada (MAPAGAMA) mengikuti International Expedition “The River of Gold” di Sungai Sun Kosi, Nepal 1-24 Mei 2013. Kegiatan arung jeram akan dilaksanakan selama sembilan hari dengan jalur tempuh sekitar 280 kilometer. Kurnia Fahmy, Official tim arung jeram UGM menyampaikan dalam kesempatan tersebut MAPAGAMA menerjunkan delapan orang anggota yang terdiri dari enam orang kayakers, satu official, dan satu fotografer. Tim MAPAGAMA dijadwalkan bertolak menuju Nepal pada 1 Mei dan akan tiba di Kathmandu, Nepal pada 2 Mei 2013. “Selama di Kathamndu tim akan melakukan persiapan fisik dan adaptasi dengan cuaca di Nepal selama empat hari. Selanjutnya tim akan menuju titik start pengarungan di Kota Dolalghat pada 7 Mei,” ungkapnya Selasa sore (30/4) di Kampus UGM.

Jalur pengarungan Sungai Sun Kosi merupakan salah satu jalur pengarungan yang termasuk ke dalam sepuluh sungai terbaik di dunia untuk Ekspedisi versi buku “500 jouney all the time” terbitan National Geographic Society. “Pengarungan ini merupakan pengarungan sungai dengan menggunakan kayak yang di lakukan oleh tim dari Indonesia dan pada kesempatan kali ini hanya dilakukan oleh tim dari MAPAGAMA,” ucap Fahmy.

Fahmy menuturkan jeram di Sungai Sun Kosi cukup bervariasi dari jeram kelas I – V (skala I-V). Mayoritas jeram kelas IV dan V akan di temui dari hari 4-6 Pengarungan. Dari segi aksesibitilas pada hari ke 5-7 jalur pengarungan akan berubah dari sebelumnya jalur dengan aksesbiltas yang relatif mudah menjadi jalur pengarungan dengan aksesibitias yang sulit. Pada hari kelima sampai ke tujuh, topografi di sekitar sungai merupakan daerah pegunungan dengan tebing dan jurang yang memisahkan antar pegunungan di kanan kiri sungai jalur pengarungan.”Salah satu jeram yang akan coba di lalui oleh kayakers MAPAGAMA adalah jeram Harkapur yang merupakan jeram terbesar di sungai Sun Kosi dengan kelas Jeram V. Namun di samping Harkapur banyak jeram lain yang berhasil di identifikasi oleh Tim MAPAGAMA dengan menggunakan metode interpretasi Citra Penginderaan Jauh,” imbuhnya.

Dari keseluruhan total panjang pengarungan, lanjutnya, tim MAPAGAMA dalampengarungan tersebut akan menjumpai 224 jeram berbagai kelas. Total jeram terbanyak akan di jumpai pada hari pertama pengarungan sejumlah 52 jeram dan jeram dengan kelas tertinggi akan di jumpai pada hari ke 6. Dalam sehari tim rata-rata akan melakukan pengarungan sejauh 35 Km. “Fakta-fakta lapangan ini menjadi dasar oleh tim MAPAGAMA untuk membuat program latihan atlet yang akan mengarungi Sungai Sun Kosi,” katanya.

Dituturkan Fahmy, dalam pengarungan nantinya tim MAPAGAMA tidak hanya akan menemui kelas jeram yang bervariatif dan panjang jalur pengarungan yang tidak pendek. Namun, juga akses yang tidak seluruhnya baik di sepanjang jalur pengarungan, serta ketidakadaan listrik membuat ekspedisi ini menjadi semakin penuh tantangan. Sehingga diperlukan persiapan yang matang tidak hanya dari kemampuan lapangan atlet, tetapi juga dari segi manajerial. “Dalam pengarungan nanti, tim MAPAGAMA akan di dampingi oleh 4 safety kayakers nepal dan sebuah perahu Rescue. Safety kayakers dan perahu rescue merupakan tim pendukung dari Paddle Nepal, sebuah perusahan penyedia jasa arung jeram di nepal. Sesuai regulasi yang di keluarkan oleh pemerintah Nepal untuk kegiatan ekspedisi arung jeram memang harus di dampingi oleh penyedia jasa arung jeram lokal untuk memastikan keamanan dan keselamatan tim yang melakukan ekspedisi,” urainya.

Tim MAPAGAMA yang diberangkatkan ke Nepal khususnya kayaker telah disiapkan sejak awal tahun 2012 lalu. Mereka adalah Fadil Ramadhan (FIB), Zul Fahmi M.(FISIPOL), Wahyudin (Fakultas Peternakan), Yudha Wahyu (FISIPOL), Aryati Larasati (Fakultas Kehutanan), Mul Hendra (Alumni FIB) sebagai kayakers. Seorang official Kurnia Fahmy (Sekolah Vokasi), dan Fotografer Dwi Oblo Alumni Jurusan Arkeologi FIB yang berprofesi sebagai wartawan foto.

Lebih lanjut dikatakan Fahmy, sebelum keberangkatan ke Nepal, pada Senin lalu (29/4) tim MAPAGAMA melakukan audinesi dengan Wakil Gubernur DIY, Pakualam IX. Dalam kesempatan itu Pakualam IX mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan yang dilakukan. Ia berharap melalui kegiatan tersebut mampu memperkenalkan Yogyakarta ke dunia internasional.
Hal senada juga disampaikan Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., saat acara pelepasan tim MAPAGAMA ke Nepal, Senin malam (29/4) di Gelanggang Mahasiswa UGM. Rektor memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan yang diikuti tim MAPAGAMA. Pada acara tersebut Rektor secara simbolis memberikan sebuah dayung kepada perwakilan MAPAGAMA sebagai tanda pelepasan keberangkatan tim ke Nepal. (Humas UGM/Ika; foto: Heribertus Suciadi Nugraha).

UGM dan Kemenlu Launching Pusat Kajian Asean

ugm-asean
Terkait Asean Community 2015, Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc mengatakan Indonesia tidak akan mundur. Dengan modal penduduk dan wilayah jauh lebih luas dari yang lain, Indonesia berharap menjadi pemimpin di Asia.

Direktur Jenderal Kerjasama Asean, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, I Gusti Agung Wesaka Puja, Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Erwan Agus Purwanto meresmikan Pusat Kajian Asean. Peresmian ditandai dengan Seminar “Toward A More Cohesive and people-Oriented ASEAN: 2015 and Beyond” di Ruang Seminar Pascasarjana UGM, Selasa (30/4).

Gusti Agung Wesaka Puja, mengatakan Pusat Kajian Asean di UGM memiliki arti penting bagi Indonesia. Pusat studi ini sudah saatnya menyiapkan para pendidik dan mahasiswa dalam Asean Community 2015. “ASEAN adalah soko guru politik bagi Indonesia, kenapa selama ini kita tidak focus lebih mendalam, justru mendirikan pusat studi lain. Di Chulalongkor Thailand, AS, Australia dan Cina telah lama memiliki dan memberi perhatian,” katanya.

Dikatakan Wesaka Puja, selain di UGM, Pusat Kajian Asean ini berdiri pula di Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Universitas Hassanudin dan Universitas Andalas. Masing-masing universitas diharapkan memiliki Pusat Kajian Asean dengan karakter-karakter yang sesuai. “Sebab bicara Asean dengan tiga pilarnya, maka masing-masing bisa menyiapkan diri. Bisa mengambil tekanan pada pilar politik, pilar ekonomi atau pilar sosial budaya. Seperti di Hassanudin sudah menyatakan berkonsentrasi pada kajian ekonomi,” tambahnya.

Terkait Asean Community 2015, Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc mengatakan Indonesia tidak akan mundur. Dengan modal penduduk dan wilayah jauh lebih luas dari yang lain, Indonesia berharap menjadi pemimpin di Asia.

Apalagi perkembangan terakhir ekonomi selatan, Indonesia berhasil masuk lapis kedua setelah India, Cina dan Brazil. Demikian pula setelah mencapai ekonomi 16 negara besar dunia, Indonesia dalam beberapa tahun kedepan berharap mencapai 10 besar dunia.

“UGM konsern memback up untuk memperkuat di masyarakat dunia, terutama di Asean. Bagaimana upaya untuk memimpin, size yang besar berpotensi menjadi pemimpin,” papar Rektor.

Dekan Fisipol UGM, Dr. Erwan Agus Purwanto menambahkan pendirian Pusat Kajian Asean secara akademik akan mendorong pendidik dan mahasiswa serta umum memahami permasalahan Asean, baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial budaya. Pusat kajian yang berada di Fisipol UGM, ini diharapkan mampu menyiapkan kaum muda untuk berkiprah dalam Asean Community di tahun 2015.

“Sebagai bagian masyarakat Asean, perlu untuk saling memahami antara satu negara dengan negara lainnya, sehingga jika terjadi miss understanding, stabilitas politik di kawasan ini tetap terjaga,” ungkapnya.

Menurut Erwan, focus pusat kajian di awal-awal mendorong kesadaran masyarakat agar mengerti bahwa dalam waktu yang tidak lama mereka menjadi bagian dari masyarakat global, Asean 2015. Secara iklim akademik, hal ini tentu akan membawa mahasiswa outward looking. “Karena itu perbaikan kurikulum di semua jurusan di Fisipol UGM perlu dilakukan, atau bahkan di beberapa fakultas yang relevan. Karena bicara tentang public policy saja, amaka tidak lagi dalam skala lokal dan nasional, namun harus mengerti proses deliverynya di tingkat Asean,” imbuhnya. (Humas UGM/ Agung)

Prestasi Makin Meningkat Setelah Ganti Nama

juara lomba robot

 

YOGYAKARTA – Namanya ‘Hafidz’, setelah tiga kali sudah berganti nama. Sebelumnya ia dinamai W1nda. Bukan perkara ganti jenis kelamin, lalu namanya diganti mirip menyerupai nama laki-laki atau perempuan. Melainkan menuruti kemauan si empunya robot. Sebelumnya, robot ini selalu langganan juara dua dan juara empat di kompetisi tingkat regional. Setelah berganti nama untuk ketiga kali, akhirnya bisa menjadi juara satu, bukan hanya di tingkat nasional tapi juga di kompetisi internasional.

“Kita namakan Hafidz diambil dari salah satu nama dari anggota tim kita yang tidak bisa berangkat ke Amerika,” kata Malik Khidir, salah satu dari tiga orang tim robot UGM yang berhasil raih emas Trinity Fire Fighting Robot Contest, 6-7 April di Hartford City, Connecticut, Amerika Serikat. Tim ini juga berhasil mendapatkan 2 emas dan 1 Perak di RoboGames 2013 Olympics of Robots, 19-21 April di San Mateo, California, Amerika Serikat.

Malik menuturkan sebanyak 49 anggota tim yang terlibat dalam persiapan kompetisi robot mewakili Indonesia di Amerika Serikat. Namun karena keterbatasan dana, akhirnya yang diberangkatkan hanya tiga orang, selain dirinya, ada Agys Badruzzaman (Fak Teknik), dan Bachtiar C Permana (Sekolah Vokasi). Dibutuhkan satu tahun bagi tim untuk persiapan mengikuti kompetisi di Amerika. Menurutnya hasil persiapan tersebut cukup maksimal dibuktikan dengan bentuk robot yang mereka buat sangat rapi. “Tiga kali trial berhasil memadamkan api dan mampu kembali ke home (lintasan awal) dengan sempurna,” kata Malik menceritakan pengalamannya saat bertanding di Trinity contest.
Diakui Malik, untuk membuat robot bisa juara tentulah tidak mudah. Setidaknya selama dua tahun, mereka harus mengurangi jatah tidur sekedar untuk mengutak-atik rangkaian robot. “Dua tahun kita kerja, Alhamdulillah ada hasilnya,” ujarnya.

Malik bersama teman-temanya biasanya membagi tugas dalam mendesain robot. Ada yang ditugaskan di bagian mekanik, ada yang mengurusi elektronik dan yang khusus membuat program. Uniknya, saat robot diujicoba dibawah jam 12 malam selalu mengalami error. Sebaliknya robot bisa diujicoba dengan baik bila sudah menjelang pagi, “Seolah sepertiga malam terakhir robotnya bisa dioperasikan,” kenangnya.

Kesulitan yang mereka hadapi tidak berhenti sampai di situ, untuk membeli suku cadang robot hanya dapat dibeli dari Amerika, China dan inggris. “Kita pun terpaksa menunggu barangnya datang satu minggu hingga dua bulan,” katanya seraya menyebutkan untuk satu robot menghabiskan dana sebesar Rp 30 Juta sedangkan untuk robot line follower hanya Rp 2 juta karena suku cadang bisa dibeli di pasar lokal.

Sementara Agys Badruzzaman, menambahkan robot mereka bawa ke Amerika Serikat sempat mengalami kerusakan karena ditempatkan di dalam bagasi pesawat. Beruntung, sebelum bertanding sempat untuk diperbaiki dan membeli suku cadang saat berada di negeri Paman Sam tersebut.

Kesusahan dan kesulitan yang mereka hadapi selama persiapan mendapatkan hasil yang membuat mereka bangga.

Di kompetisi Trinity Fire Fighting Robot Contest, robot mereka berhasil mengalahkan robot dari Amerika, China, Israel, Rumania, dan turki. Robot Hafidz mampu mengalah robot lainnya dalam kecepatan memadamkan api dengan cepat dalam sebuah simulasi dengan lintasan sepanjang 60 meter. “Ditempatkan dari posisi manapun, robot Hafidz bisa memadamkan api dan tidak terjadi error,” katanya.

 

Sedangkan dalam kompetisi Robogames, tim robot UGM mengikuti lima kategori namun hanya tiga kategori yang berhasil membawa pulang medali. Dua medali emas diraih untuk kategori Fire Fighting Robot dan Natcar Robot sedangkan perak untuk kategori Balancer Robot. Menurut Agys, kompetisi robot ini merupakan kompetisi robot terbesar di dunia yang pernah dilakukan. Sehingga mendapatkan penghargaan The Guinness World Records. Kompetisi tidak hanya diikuti para mahasiswa namun dikuti oleh semua kelompok umur mulai dari anak-anak hingga para klub penggemar robot. “Diikuti peserta dari 16 negara, ada 59 even, 227 tim, 703 robot dan 841 engginer dari seluruh dunia,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)